Sepak Terjang Pimpinan Beracun
Sepak Terjang Pimpinan Beracun

Halo… Sahabat.. Semoga Anda dalam keadaan sehat dan tetap antusias dalam menjalankan aktivitas setiap harinya.

Minggu ke 3 di bulan januari tahun 2016 lalu di awali dengan curhatan via email dari beberapa peserta training, tidak jauh-jauh curhatannya yaitu soal leader di tempat kerjanya. Rasanya sampai hari kiamat tiba curhatan ini masih menjadi trending topic bagi kalangan karyawan barisan sakit hati. 

Berikut cuplikan curhatannya :

“Atasan saya adalah manusia bermuka dua. Di depan saya dia baik-baik saja, seolah pengertian dan mendengarkan. Tapi.. semua curhat dan cerita saya lantas diceritakan kepada teman-teman yang lainnya. Bahkan kisah saya, semuanya juga di ungkapkan ke teman-teman sehingga saya merasa malu dan jadi bahan omongan. Padahal saya sudah meminta atasan saya untuk merahasiakannya, dan dia setuju. Belum lagi kalau di depan saya dia memberikan janji yang muluk-muluk dan tampak begitu empati. Tapi ujung-ujungnya dia tidak pernah sungguh-sungguh memperjuangkan kami ketika masalah membelit kami”

 

“Saya sedang sakit dan sempat dibawa ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba si Bos telpon dan bertanya, ‘Data pegawai yang akan ikut training kayanya belum masuk deh, besok kamu akan masuk nggak?’”

 

“Saya diminta membuat laporan oleh atasan. Dan saya sudah membuat sesuai dengan keinginannya. Saya pun mengkonfirmasikan hasil kerja saya apakah sudah sesuai atau belum, tapi dia jawab sudah pokoknya beres. Eh, besok nya marah-marah karena ada data yang belum  dimasukin”

 

Di atas adalah beberapa curahan hati para bawahan yang tergolong barisan sakit hati. Hmm.. termasuk kisah tragis, kelihatan sekali bahwa si pimpinan termasuk dalam tokoh antagonis!

 

Tahukah Anda bahwa data-data soal bos maupun atasan tidaklah makin menggembirakan dari tahun ke tahun. Di Inggris, 1 dari 4 bos tergolong bermasalah. Sementara, di Norwegia, 1 dari 5 bos tergolong sulit. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Hehehe.. Sayang, saya tidak punya datanya.

 

Namun demikian, pengaruh bos kita di kantor bisa berdampak hingga kepada kesahatan fisik dan mental loh. Misalkan saja, sebuah studi di Swedia sampai mengatakan bahwa Bos baik menurunkan sekitar 39% penyakit jantung!

 

Nah, mari kita lihat mengenai hasil survey yang dilakukan oleh Neirenberg Group dan New York University  kepada beberapa karyawan. Berikut data nya :

 

 

  •   30% karyawan mengatakan apa yang dilakukan oleh pimpinannya sia-sia dan tidak memberikan dampak buat mereka
  •   86% mengatakan pimpinan mereka tidak capable dan tidak mampu mengelola mereka
  •   Karyawan merasa, kurang dari 50% pimpinan mereka yang betul-betul mampu dan bisa memotivasi mereka
  •   Dan, karyawan tidak mau memberikan umpan balik karena :”takut” (takut pembalasan, takut bosnya tidak terima, takut dicuekin, takut menghambat karir atau takut salah persepsi)

 

 

Tapi di sisi lain sebuah penelitian oleh Gallup di tahun 2007 menunjukkan bahwa ternyata 24% karyawan yang di survey punya keinginan untuk memecat bosnya, kalau mereka punya kesempatan dan Tuhan ijinkan..hehe! Hm… ini menunjukkan betapa banyaknya bos yang beracun atau istilah dari Anthony Dio Martin, The Best EQ Trainer Indonesia menyebutnya si toxic leader. Seorang pemimpin yang membangkitkan aura negatif baik bagi tim maupun organisasi.

Nah, semoga saja, teman-teman tidak menjadi korban toxic leader atau Anda yang sudah menjadi leader tidak termasuk kepada golongan si toxic leader.

 

Berbicara tentang para leader yang beracun, saya menjadi tertarik untuk menulis artikel tentang keberadaan si toxic leader. Ciri-ciri keberadaannya pasti banyak, hanya saya akan membahas 1 saja yang sering saya jumpai deh.. hehehe..

 

BERHATI-HATILAH JIKA PERFORMANCE KERJA MENURUN! BERARTI DI TEMPAT ANDA HARUS WASPADA, JANGAN-JANGAN SUDAH ADA SI TOXIC LEADER.

 

Jadi meski awalnya kinerja tim tampak baik, hasil akhirnya tetaplah akan memburuk. Masalahnya, si leader beracun ini senang mengejar kuantitas dan tidak terlalu memperhatikan kualitas pekerjaannya.

 

Sayangnya, tak jarang pihak manajemen justru memuji kinerja si toxic leader ini karena hasil luar biasanya bisa dicapai dalam waktu singkat. Manajemen tidak tahu kalau hasil itu di capai dengan menelan banyak korban dan tekanan psikologis di antara karyawan. 

Pertanyaannya adalah apakah hal yang dilakukan seorang pemimpin yang membuat kinerja jadi turun? Yang jelas, kalau saya perhatikan ada 3 perilaku “SOK” yang membuat seorang pemimpin membuat kinerja tim jadi menurun.

 

PERTAMA, SOK TAHU!

Ketika pimpinan sok tahu, perilakunya adalah tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima masukan. Tapi mengharapkan anak buahnya produktif. Tatkala rapat ia selalu bilang kepada bawahannya, “Ayo kasih pendapat!” hehe itu sebuah formalitas saja. Ujung-ujungnya ide dialah yang dipakai. Jadi, bawahannya pun malas untuk memberikan ide karena pada akhirnya ide mereka pun tidak akan dijadikan bahan pertimbangan keputusan.

 

KEDUA, SOK SIBUK

Di kantor, ia tidak punya waktu untuk mendengarkan dan tidak ada waktu untuk mengembangkan orang. Jadi, selalu tampak sibuk bahkan tidak pernah nongol untuk bersama-sama dengan timnya. Hanya kalau ada urusan darurat, dan masalah besar, barulah dia muncul. Itupun karena ia merasa perlu memarahi orang..haha.. Jadi, tampaknya sibuk sekali, tetapi dia tidak pernah tahu apa yang dia hasilkan. 

 

KETIGA, SOK HEBAT

Kadangkala, seorang leader yang beracun tidak suka pada persaingan. Ia merasa dirinya hebat sendiri dan sampai-sampai, orang lain seakan-akan adalah pelengkap. Karena itu, tidak mengherankan, seorang leader beracun tidak pernah mengapresiasi hasil kerja anak buahnya. Sebaliknya, ketika ada hasil yang bagus, ia mengaku sebagai hasil kerjanya. Akibatnya, orang pun jadi malas untuk perform dan menunjukkan hasil paling bagus. Semua orang jadi berpikir, “buat apa?” Toh bagus atau tidak, hasilnya sama saja. Malahan, dengan sikap sok hebat ini, anak buahnya jadi sengaja membuat kesalahan ataupun membuat hasilnya berantakan untuk ngerjain si atasannya hehehe.

 

Selanjutnya saking hebatnya si atasan, dia bisa memberikan ide yang begitu banyak, dan memberi keputusan dalam waktu singkat tapi selalu berubah-ubah. Wihhh….. bisa-bisa banyak yang kena penyakit jantung, pura-pura pingsan dan mendadak lupa ingatan deh kalau ada atasan begini. Mungkin saking hebatnya ya.. hohoho..pertama harus begini, tiba-tiba harus begitu, tadinya “A” eh tiba-tiba “B”. 

 

Nah, jika sahabat sudah menjadi korban si leader beracun, saran saya adalah NEVER FIGHT with Toxic Leader ini. Artinya, jangan melawan apalagi terang-terangan bermusuhan dengan si leader beracun.

Alasannya cukup sederhana, “Ingat! Dia tetaplah pimpinan dan memegang otoritas atas nasib Anda”. Jadi, sikap Anda yang memusuhinya bisa-bisa justru jadi penghambat karier Anda sendiri. Kecuali…….. Anda sudah tidak terlalu peduli dengan karier Anda atau sudah memikirkan keluar dari tempat Anda bekerja saat ini.

 

Saran saya agar Anda bisa menghadapi toxic leader, Pertama terus lah bangun Credibility. Karena jika dia merasa bahwa kredibilitas anda kurang, masukan Anda, ataupun perlawanan Anda akan segera dipatahkannya. Bahkan dia juga merasa bahwa apapun yang anda lakukan tidak akan ada gunanya. Sebab, Anda tidak punya harga lagi di matanya. Kedua, Soal Abality Anda. Maksudnya sulit untuk membuat dia bertaubat kalau performance Anda buruk. Salah-salah, waktu Anda berusaha memberi masukan kepadanya, nanti dia bilang, “Eh gak usah ngomongin soal saya deh, lihat saja dirimu sendiri, kerjaan yang setahun yang mesti kamu selesaikan aja kaga kelar-kelar, eh sekarang malah mau ngurusin saya” 

 

Dan akhirnya, bila tidak satu pun jurus diatas yang berhasil, Anda sekarang punya dua pilihan. Bila Anda mempunyai alasan pribadi untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut (entah karena mencintai pekerjaan Anda, bisa belajar banyak di perusahaan ini, menyukai teman-teman kerja), bertahanlah dan sedapat mungkin acuhkan atasan Anda tanpa menghilangkan komunikasi dengannya. Pilihan lain adalah berhenti dari situ. Ingat, hidup terlalu singkat untuk berurusan dengan penyimpangan –penyimpangan dunia kerja seperti yang Anda hadapi!

 

Semoga bermanfaat ya sahabat, semoga keberkahan selalu menyertai Anda dalam bekerja dan kesabaran selalu ada di hati Anda dalam menghadapi si toxic leader.

 

Have a Great Day!

 

Ahmad Madu

 

 

 

 

 

 

Share With :

Facebook LinkedIn Twitter
LEAVE A REPLY

Name

Email

Comment