Cerdas Emosi Saat Mengajar
Cerdas Emosi Saat Mengajar

Harus diakui, banyak pendidik yang mengajar karena terpaksa. Dan sebaliknya, banyak peserta pun merasa sangat terbebani pada saat diminta ikut training. Semua itu tidak terlepas dari kurangnya perhatian leader terhadap training. Lantas para trainer yang harus mengajar dengan terpaksa, yang hati dan panggilannya bukan sebagai pengajar tapi "tukang ajar". Makanya, training yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah kegiatan yang menakutkan. Pagi ini, saya ingin berbagi mengenai betapa pentingnya seorang pendidik (guru, pengajar, dosen, trainer) memiliki kecerdasan emosi yang tinggi untuk menggerakkan peserta mengambil tindakan positif.
 
Buku “Miss Phillips You’re Wrong!”: kisah seorang milyuner di  Australia, Peter Daniels yang datang dari Afrika Selatan. Generasi ketiga yang hidup dengan jaminan sosial pemerintah. Ayah ibunya gonta-ganti, sehingga ia tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa perhatian. Dia miskin, bodoh. Celakanya, ketika dia sekolah, tiap kali nggak bisa, dia ditampar. Jaman itu guru kan ringan tangan dan sangar-sangar sampai memukul, menampar. Sampai gurunya yang bernama Miss Phillips bilang, “Kamu bener-bener bodoh dan brengsek. Tahu nggak, orang kayak kamu, nggak akan bisa jadi apapun!”. Harga diri Peter Daniels sempat jatuh. Tapi, dia berjuang luar biasa untuk mengatasi itu, hingga akhirnya bisa jadi milyuner di Australia! Kalimat pertama dia adalah, “Miss Phillips Your’re Wrong!”
 
Adakah kisah inspirasi dari seorang Guru?

Kisah inspirasi yang sangat terkenal. Kisah Miss Thompson dan Teddy Stoddard. Miss Thompson masuk di kelas 5. Ada seorang siswa yang tampaknya tidak berminat, duduk dengan ngelonjor, tidak memperhatikan,  dan tidak punya motivasi. Nilai-nilainya jelek semua. Akhirnya si miss Thompson ini meneliti semua catatan mengenai Teddy Stoddard ini. Ternyata di kelas 1 bagus, kelas 2 bagus, kelas 3 bagus. Sampai akhirnya dia menemukan catatan bahwa setelah kelas 3, sesuatu terjadi. Ibunya meninggal. Sejak itu ayahnya sama sekali tidak peduli. Tapi si Miss Thompson ini mulai perhatian termasuk waktu acara tukar kado. Si Teddy membawa kalung usang yang beberapa maniknya udah lepas dan botol parfum yang isinya separo diberikan kepada Miss Thompson. Semua menertawakan Teddy kecuali si Miss Thompson. Ia malah pakai kalungnya dan parfummnya ia semprotkan. Ia pun memeluk Teddy dan Teddy berkata, “Miss sekarang Miss betul-betul wanginya seperti ibuku”. Sejak itu Miss Thompson memberikan perhatian lebih kepada Teddy. Sejak itulah, dikatakan Miss Thompson berhenti mengajar berhitung, membaca, menulis tetapi mulai mengajar dari hatinya. Teddypun berubah. Dan di tahun itu, Teddy lulus terbaik. Dan begitulah setiap tahunnya, Miss Thompson selalu menerima surat dari Teddy yang mengatakan, “Your’re my best teacher and you still my best teacher”.  Hingga akhirnya, surat itu terus terjadi termasuk waktu dia menerima surat dari seorang dokter yang bernama Dr.Teddy Stoddard. Dan beberapa tahun kemudian dia menerima surat dari Teddy yang meminta Miss Thompson jadi ibu pendampingnya karena ia akan menikah. Tahukah, Miss Thompson datang dengan mengenakan kalung yang dulu Teddy berikan. Dan Teddy berkata, “Terima kasih Miss. Terima kasih telah mempercayai saya. Dan membuat saya berubah”. Tetapi, justru Miss Thompson berkata, “Kamu salah Teddy. Saya tidak tahu sama sekali soal mengajar, sampai kamu hadir dalam kehidupan saya. Sejak itulah saya baru tahu soal mengajar yang sesungguhnya”.

Dua cerita ini menjadi pembanding yang sangat bagus dimana seorang guru bisa memberikan dampak yang luar biasa kepada muridnya. Jadi buat Anda yang mempunyai murid, apapun bentuknya (les, kursus, trainer, dosen), kita mempunyai dampak yang luar biasa untuk mengubah kehidupan orang lain karena orang lain menyimak kita.
 
Nah, Kategori Trainer Yang Tergolong Tidak Cerdas Emosi yang sering saya jumpai adalah..


(1)  Robot: datang, sampaikan informasi. Lu paham nggak paham, emangnya gue pikirin? Nggak punya koneksi emosi dengan audiens! Berjarak!
(2)  No Empathy! buatnya “Kalau ini mudah buat gue, mestinya kalian juga bisa. Bodoh banget sih!”
(3)  Memuntahkan Emosinya di Kelas! Kalau tidak suka, kalau kesal atau ada sesuatu yang tidak seperti ia harapkan, ia bisa mengeluarkan emosi bahkan kata2 yang tidak pantas! Termasuk menghukum!
(4)  Mood Swing! Emosinya berubah-ubah, sesuai dengan keadaannya. Akibatnya kualitas mengajar tergantung suasana hatinya!
(5)  Tidak Apresiatif! S4: Senang lihat orang susah dan susah lihat orang lain senang! Ia senang dibilang “killer”, Tidak menghargai usaha peserta, apalagi apresiasi!

Jadi, Dalam Mengajar Bagaimana Menerapkan Kecerdasan Emosional?

(1)    Teaching is sharing of emotion! Kalau kamu suka, audiensmu juga akan suka. Kalau terpaksa, audiens juga akan merasa tersiksa!
(2)    Lakukan AMBAK (Apa Manfaatnya BagiKu): prinsip Quantum Teaching, orang mengingat kalau tahu apa manfaat ia belajar, pentingnya bagi mereka, dan dampak jika mereka tidak melakukan.
(3)    Libatkan emosi. Ingat prinsipnya Six Seconds, “Emotion drives people. People drives performance.” Caranya: bercerita, gunakan analogi, gunakan activity!
(4)    Multi sensory: “People will pay more for entertainment than education”. Libatkan berbagai sensory untuk mengajar, peragakan. Misalkan: “Dan coba lihat si Ant-Man pun jadi kecil (swiiippp!!!) jadi atom!
 
Semoga tulisan pagi ini bermanfaat. Percayalah, apapun yang temen2 sampaikan saat di kelas akan disimak audiens. Sekali pun temen2 sedang berbohong, bahkan marah!

Mari jadi panutan, mari jadi contoh, karena dari situlah peserta mulai bergerak!

Have a great day!
Ahmad Madu

Share With :

Facebook LinkedIn Twitter
LEAVE A REPLY

Name

Email

Comment