Bukan Hanya MEMOTIVASI tapi MENGINSPIRASI
Bukan Hanya MEMOTIVASI tapi MENGINSPIRASI

Baru-baru ini saya berkesempatan melaksanakan training di kementerian pendidikan dan kebudayaan RI untuk para staff widyaiswara (trainer internal) mereka. 

Di awal-awal training saya bertanya kepada para peserta yang notabene adalah kaum beliau. Pertanyaan saya adalah, “tugas bapak/Ibu sebagai trainer internal apa ya? Yuu sharing...” Dan, beberapa dari mereka ada yang menjawab, “yaaaa.. tugas kita kan memotivasi pak. Bikin mereka semangat kaya motivator-motivator gitu.., samalah kaya bapak..”

 

Saya pun sontak menanggapi, “wahh... kalau boleh bercita-cita, jujur selama ini saya tidak mau menjadi motivator yang hanya bertugas memotivasi. Karena buat saya para audiens yang sudah berkorban waktu dan tenaga, bisa mendapatkan lebih  bukan hanya sekedar motivasi saja. Bayangkan sesi training yang katakanlah 2 hari mereka ikuti, diakhir acara, mereka hanya mendapatkan semangatnya kembali. Jujur itu sangat tidak seimbang dengan pengorbanan yang mereka keluarkan. Kalau mau memotivasi jangan lewat training, kasih saja insentif, selesai deh. Mereka pun sontak tertawa..

Bicara soal trainer apalagi trainer internal yang peserta trainingnya bisa melihat perilakunya di kantor atau instansi. Isu soal sosok trainer tersebut sangat lebih mudah dibuktikan. Jangan sampai bangga sudah memotivasi peserta tapi tidak berdampak panjang bagi kemajuannya. Jangan sampai bangga menjadi motivator tapi perilakunya tidak mencerminkan apa yang dikatakannya saat dikelas. Karena sesungguhnya pembelajaran bukan hanya bicara motivasi, tapi bicara model. Model ini lah yang punya dampak menginspirasi banyak orang untuk bergerak.

Banyak orang belajar public speaking kemudian menjelma menjadi trainer tapi berujung hanya memotivasi. Bisa jadi Para audiensnya kemudian berkata dengan nada sindiran, “emangnya bapak udah melakukannya? Terus dampaknya apa? Emang standarnya bapak lakukan semuanya?” Hmm... Itu sebenarnya pertanyaan dari salah satu sales dealer honda bandung yang ditujukan kepada saya dan benar-benar membuat saya malu. Kenapa malu?? Karena memang saya belum pernah jadi sales motor honda. Tapi suara saya lantang memotivasi. Hadeuh... saat itu hanya malu yang saya rasakan dan ingin cepat-cepat mengakhiri traning. Dari situlah saya punya wisdom, mana bisa kita meyakinkan orang sedangkan kita tidak punya pengalaman yang bisa dijadikan mereka sebuah inspirasi. Sampai pada akhirnya di tahun 2011, saya mengajukan untuk on job training menjadi seorang sales selama 2 bulan. Bulan pertama saya closing di 5 unit dan bulan kedua di 7 Unit. 

Kenapa saya bisa closing? Karena saya cari model, cari sosok yang bisa mengajak bukan mengejek, yang bisa di teladani bukan dicaci. 

Saya katakan kepada widyaiswara kemendikbud, mari bersama-sama memberi contoh bukan hanya di kelas saja, tidak memotivasi hanya di kelas saja. Pembelajaran bukan hanya melulu identik dengan ruang kelas megah, makanan yang enak, trainer yang atraktif, tapi... pembelajaran adalah dimana peserta bisa melihat, terinspirasi oleh tindakan trainer dalam kesehariannya. Jika memang bicara standar, maka trainer pun  melakukan standarnya. Karena seorang trainer layaknya tour guide yang membantu menunjukkan arah kepada orang yang ingin pergi ke tempat yang ditujunya.  

Walaupun trainer biasanya dikaitkan dengan motivator, tapi mari kita teguhkan bahwa kita perlu menjadi inspirator! Dengan verbal, kita bisa menginspirasi. Namun dengan perilaku dan tindakan, orang akan semakin terinspirasi untuk bertindak!

 

Semoga menjadi manfaat bagi kita semua ya..

 

Hatur nuhun,

Ahmad Madu

Fun Communicator

 

Share With :

Facebook LinkedIn Twitter
LEAVE A REPLY

Name

Email

Comment