Gerombolan Penghancur Bisnis Perusahaan
Gerombolan Penghancur Bisnis Perusahaan

Suatu ketika, seorang Chief Executive Officer (CEO) sebuah perusahaan, curhat kepada saya. "Pak Madu, sekarang ini makin banyak lulusan perguruan tinggi yang beken-beken. CV-nya juga tampak hebat. Namun, setelah diterima bekerja, tuntutannya banyak, sementara hasilnya tidak seberapa. Ada juga teman saya, pengusaha juga, di tempatnya, jumlah karyawan semakin bertambah, namun profit perusahaan bukannya tumbuh signifikan, eh malah masih sama saja. Alhasil dia suka nombok untuk bayar gaji karyawan dari tabungannya", begitu keluhnya.

Mendengar curhatan CEO tersebut, bulu kuduk saya berdiri. Sambil merenung, apakah saya juga termasuk gerombolan manusia penghancur perusahaan saat saya masih bekerja? Semoga saya tidak termasuk. Jika pun iya, semoga dosa saya diampuni Allah.. aamiin.

Ya, memang selayaknya namanya karyawan adalah orang yang bisa mendukung bisnis dan kemajuan organisasi. Tapi ya, namanya juga manusia yang berada dalam organisasi, ada yang bagus, ada juga yang merusak. 
 
Menurut saya, sekarang ada beberapa gerombolan karyawan yang lagi ngehits masuk kategori penghancur bisnis perusahaan. Sifat karyawan ini seperti virus yang nempel di komputer. Ada virus yang langsung membuat komputer rusak. Namun, yang lebih parah adalah virus yang merusak secara perlahan. Lama-kelamaan, komputer akan rusak hingga tidak bisa digunakan sama sekali. Inilah gerombolan karyawan yang berbahaya. Padahal, jika diperhatikan, biaya dan gaji karyawan tersebut tetap berjalan seperti biasa. Nah, mari kita bahas gerombolan karyawan yang lagi ngehits merusak bisnis perusahaan.
 
Isi dari gerombolan karyawan yang lagi ngehits perusak bisnis perusahaan siapa saja ya?

Pertama, Si Bodo Amat
Kedua, Si Sok Iye
Ketiga, si Politikus

Mari bahas satu persatu.

Pertama, Si Bodo Amat. Mempunyai ciri tidak mau tahu, tidak punya sense of customer service, kerja menurut seleranya dia, tidak mau tahu proses pekerjaan rekannya, tidak mau tanggung jawab kalau ada masalah. Tidak pernah melakukan improvement apapun bagi perusahaan. Ketika ada klien yang komplain, dia hanya melempar ke bagian lain atau membiarkannya begitu saja. Karena menurut dia, yang komplain juga pada akhirnya akan diam juga.

Kedua, Si Sok Iye. Mempunyai ciri yaitu suka ngomong terus saat meeting, berlagak memperhatikan. Banyak memberi janji dan omongannya paling banyak namun tidak ada yang terealisasi sama sekali. Kadang, tugas atau proyek yang ia kerjakan terlambat atau malah tidak seperti yang ia katakan. Namun, tetap saja ia hobi mengobral janji sana-sini, khususnya kepada pelanggan. Prinsip dia adalah, "Yang penting ngomong dulu, karena ini yang orang ingin dengar. Selanjutnya gimana nanti saja"

Ketiga, Si Politikus. Kaum ini adalah suka kasak-kusuk dan suka mengumpulkan massa. Mereka punya pengaruh tetapi lebih sibuk mengurusi dan membicarakan apa yang tidak beres. Kesannya, seperti mendengar aspirasi rakyat, tetapi kadang-kadang ia juga menghasut. Si Politikus memiliki pembawan tenang dan anteng. Padahal, ia sebetulnya sering bergerilya mengumpulkan massa. Biasanya, pada saat meeting dia akan tampak baik-baik saja. Masalahnya, dia bisa membocorkan hasil meeting confidential, plus ia juga sering memelintir hasil meeting nya untuk mengumpulkan massa.

Pertanyaannya, mengapa Si Bodo Amat, Si Sok Iye dan Si Politikus bisa lahir dalam perusahaan?
 
 Jika diteliti, tentunya ada beberapa alasan umum. Pertama, bisa jadi karakter karyawan tersebut memang begitu. Namun, alasan kedua, bisa pula karena rasa sakit hati akibat suatu pengalaman tertentu atau perlakuan buruk yang pernah dia terima. Ketiga, bisa pula akibat kebiasaan dari pengalaman dan cara kerja di perusahaan sebelumnya. Alasan paling pamungkas adalah, bisa jadi karena memang tidak pernah ditegur, tidak pernah dimonitor dan tidak pernah diberikan contoh oleh atasannya untuk menjadi karyawan yang lebih baik.

Lantas, katakanlah, Anda adalah atasan dari gerombolan perusak bisnis perusahaan. Apa yang mesti dilakukan ketika ada gerombolan karyawan perusak perusahaan ada di dalam organisasi Anda? 

Apapun tipenya, saya percaya, hal itu bukanlah bawaan lahir. Semuanya tergantung pada niat, kebiasaan, serta apakah ia melihat tujuan dibalik pekerjaannya atau tidak. Jadi, kalau mau berubah ya ketiganya harus mulai disentuh. oeluk
 
 Secara umum, Anda bisa menerapkan kaidah yang disebut APES.
 
A -nya adalah AKUI
Akui dan sadari bahwa ada masalah dalam organisasi. Anda selaku pimpinan perlu melek dengan keadaan ini. Bisa jadi, karena Anda tidak memberikan teladan bagi mereka, dampaknya mereka berubah menjadi seperti itu. Atau, Anda sadar bahwa ini adalah sebuah malapetaka, tapi... ya, cari aman aja deh. Karena memang udah muak juga melihat karyawan tersebut. 

P -nya adalah PETAKAN.
Tentukan siapa yang perlu dimonitor lebih ketat. Please... pada bagian ini, Anda selaku pimpinan, tidak fokus pada orangnya. fokuslah pada perbuatannya. Karena jika Anda sudah melabel orangnya, tentu saja, Anda tidak mau pendekatan lagi dengannya.

E -nya adalah EDUKASI.
Berilah edukasi melalui arahan dan bimbingan. Pada bagian ini, Anda perlu menggunakan formula HATI (Hadir (pikiran dan hatinya pada saat berbicara dengannya), Amati (respon yang ia berikan saat Anda memberikan arahan), Taludan (Anda harus menjadi tauladan atau panutan. Jika Anda memberi arahan, isinya adalah perilaku baik yang Anda kerjakan. Jangan sampai, mereka berpikir, "Ah... Lu juga gak lakuin"), Inspirasi (Mereka akan melihat gerak-gerik Anda sebagai pimpinan. Biasakan memberi contoh nyata terus menerus, sehingga mereka terinpirasi)

S -nya adalah.... 
"Nah, jika tidak berhasil juga dari A sampai E, gunakan huruf terakhir, yakni SEMBELIH
 
Bila sebagai pimpinan, Anda banyak melakukan pekerjaan sendirian, berarti Anda belum berbuat layak dan belum banyak berbuat. Dan yang paling mulia dari tugas pimpinan adalah mampu menggerakan langkah dan mengangkat nasib banyak orang. Tapi, eits…sebelum Anda mengubah orang lain, Anda harus mengubah diri dulu menjadi sosok yang memang patut untuk di tauladani.

Semoga Bermanfaat,
 
Ahmad Madu
Fun Communicator

Share With :

Facebook LinkedIn Twitter
LEAVE A REPLY

Name

Email

Comment



Victor

Kamis, 01 March 2018 | 13:39:47

Thanks sudah sharing artikelnya mas madu... ini bener-bener realistis!