Demosthenes, Sang Pengaruh
Demosthenes, Sang Pengaruh

Jika Anda seorang public speakers tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Demosthenes. Dia adalah orator ulung dari Athena kuno, Yunani. Hampir setiap kelas, training, pelatihan, ataupun buku-buku public speaking kisah nyata Demosthenes sangat menginspirasi.

Demosthenes adalah seorang yang memiliki penyakit gagap. Ditertawai saat tampil di depan umum sudah menjadi hal biasa baginya. Ia bahkan harus kehilangan hak atas harta warisnya karena kalah dalam debat sidang.

Ia kalah karena gagap dan tidak bisa mengolah kata-kata dengan baik. Alih-alih kecewa karena sering ditertawai dan kehilangan harta yang sangat banyak. Ia justru memilih untuk bisa menyembuhkan kegagapannya. Dia lebih memilih untuk mengubah kekalahannya menjadi kemenangan.

Gagap, kekalahan, dan kemiskinan bukanlah hal permanen. Gagap, kekalahan dan kemiskinan bukanlah tidak bisa diubah. Dirinya mulai berlatih keras untuk menghilangkan kekurangannya ini.

Dirinya berlatih pidato dengan menaruh kerikil ke dalam mulutnya agar bisa berbicara dengan jelas. Sekali salah ucap, dirinya mengulang lagi dan memperbaikinya dari awal.

Latihan yang dilakukan Demosthenes bukanlah latihan biasa, ia berlatih setiap hari di tepi pantai dan berbicara sekeras mungkin hingga mengalahkan suara ombak. Dirinya juga sering berlatih di dalam goa yang sunyi agar bisa mendengar jelas perkataannya.

Berkat kerja kerasnya, kini sejarah mencatat dirinya sebagai seseorang yang mampu mengalahkan kegagapannya dan berubah menjadi seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain lewat pidatonya.

Cerita Demosthenes membuktikan bahwa orang butuh belajar kemampuan public speaking. Untuk bisa bersaing di dunia pekerjaan, meraih kesuksesan di semua bidang, tidak terlepas dari kemampuan public speaking yang dimiliki orang tersebut. Saya yakin, semua orang bisa melakukannya tentunya dengan cara yang berbeda dengan Demosthenes. Poin pentingnya adalah mau berlatih, terus berlatih dan diberi feedback. Demonsthenes melakukan latihan yang luar biasa untuk mencapainya, mengapa ? karena dia tahu dampak mempelajari public speaking.

 

Share With :

Facebook LinkedIn Twitter
LEAVE A REPLY

Name

Email

Comment